I'm still a newbie :)
Genre: Romantic
Genre: Romantic
Main cast: Lee Taemin, Han Dongmi
Supporting Cast: Choi
Minho, Key, Onew, Jonghyun, Choijin, Taeyeon
Length: One shoot
“Wow, kamar ini keren,”
Seru Taemin sembari mengangkat kopernya ke dalam kamar.
Kamar itu tidak terlalu besar dan memuat dua ranjang dengan seprai,
bantal dan selimut bercorak laut. Di sudut ruangan ada sebuah lemari besar
berwarna coklat kayu yang dapat memuat kira-kira dua buah koper. Lantainya
tesusun dari kayu-kayu yang dirangkai sejajar. Ada sebuah jam dinding berbentuk
setir kapal di dinding antara kedua ranjang yang terpisah. Ada pula sebuah meja
kayu kecil yang dihias kerang. Kamar itu juga dilengkapi toilet kecil di dekat
pintu masuk. Namun, yang paling menonjol dari semuanya adalah sebuah jendela
besar yang menghadap ke arah pantai dengan gorden berwarna hijau membingkai di
sekelilingnya. Ruangan itu didesarin rapi agar penghuninya dapat menikmati
suasana pantai.
“Ya! Masukkan kopermu ke lemari, Taemin.” Ujar Minho yang lebih tertarik
menata kopernya dibanding menikmati keindahan kamar itu.
“Ayolah, hyeong, nikmati sedikit,” Taemin menggerutu. Setelah memasukkan
kopernya ke dalam lemari, ia segera menuju ke arah jendela dan mengamati
indahnya pemandangan di luar. Laut mendesir pelan, menghantam pasir pantai
dengan lembut. Kapal-kapal kecil mengapung di berbagi tempat di laut. Beberapa
orang asing sedang mnikmati berjemur di bawah terik matahari. Anak-anak kecil
berlarian di tepi, melempar bola. Beberapa keluarga kecil sedang membentuk
istana pasir. Seorang gadis duduk memeluk kakinya sembari menatap keindahan
pemandangan di depannya.
“Semua selesai, ayo, kita turun makan.” Panggil Minho yang sudah
berjalan menuju pintu. Taemin meninggalkan pengamatannya dan mengikuti Minho
keluar dari kamar menuju restauran hotel.
Restauran hotel berada di ruang terbuka dan berada dekat dengan pantai.
Meja-meja pantai melingkar di sekeliling kasirnya. Tidak ada lantai maupun kayu
yang mendasar di bawahnya, melainkan pasir pantai yang berwarna coklat mudah
dan kerikil-kerikil. Taemin sangat senang dengan tempat ini, tapi Minho
sebaliknya merasa terganggu dan menggerutu beberapa kali ketika pasir masuk ke
dalam sandalnya. Restauran itu lumayan ramai oleh pengunjung dan turis asing.
Ketika melihat Taemin dan Minho, beberapa gadis bersorak riang mengambil kamera
mereka dan mengambil gambar kedua bintang itu.
Mereka menemukan Onew, Key, dan Jonghyun sudah terduduk di salah satu
meja dengan ekspresi berbeda-beda. Onew sedang sibuk menatap buku menu dan
menggumamkan sesuatu ke pelayan di sebelahnya. Key dengan kacamata hitam bertenger
di hidungnya menatap pantai dengan pandangan kagum. Jonghyun duduk bersandar
sembari sibuk memainkan ponselnya. Ketika mendapati kehadiran Minho dan Taemin,
mereka memberhentikan aktivitas mereka dan tersenyum menyapa.
“Kalian lama sekali!” Omel Key.
“Kami sudah memesankan makanan lebih dahulu, kalian pesanlah minuman,”
Onew menyerahkan buku menunya pada Minho dan Taemin.
Mereka masing-masing memesan minuman dan pelayan itu pergi setelah semua
pesanan dibaca ulang.
“Hyeong, tempat ini bagus ya.” Puji Taemin masih dengan mata
berbinar-binar.
“Ya,” Key mengangguk setuju, “Aku bisa membayangkan kita tampil seksi
dalam pemotretan dengan pemandangan seindah ini.”
“Jam berapa pemotretannya?” Tanya Minho.
“Choijin hyeong sih bilang pemotretannya dimulai pukul 2.” Jonghyun
menjawab tanpa ada ketertarikan sama sekali. Ia kembali memainkan ponselnya dan
tersenyum-senyum sendiri.
“Apa yang kau lakukan? Mengepost sesuatu di me2day atau twitter?” Tanya
Key pada Jonghyun ingin tahu.
“Lihat saja sendiri.”
Tak lama kemudian seorang pelayan perempuan mengantarkan minuman mereka.
Pelayan perempuan itu membawa minuman mereka dengan pandangan kosong dan bahkan
tidak menyadari bahwa ia sedang meletakkan minuman di meja para bintang Korea.
Ia meletakkan minuman itu dengan canggung dan tangannya terpleset memegang
cangkir terakhir hingga isinya tumpah ke arah Taemin.
“Ah! Mianhae…” Seru pelayan itu.
“Ya! Dongmi! Kau ini niat kerja tidak sih?” Seorang pelayan perempuan
lain berlari ke arah mereka. Pelayan perempuan itu menatap seluruh anggota
Shinee dengan pandangan meminta maaf, “Maafkan dia, kalian tidak apa ‘kan? Oh
tidak, Taemin oppa, bajumu basah. Seharusnya aku tidak membiarkan dia
mengantarkan minuman.”
“Eng, gwenchana.. tak apa kok.“ Kata Taemin. Bajunya memang terkena air,
tapi ia yakin baju itu akan kering beberapa saat.
“Ya! Lihatlah perbuatanmu, Han Dongmi! Aku benar-benar tak mengerti
kenapa bos masih mempertahankanmu di sini. Kau ini sudah kerja asal-asalan,
bisanya hanya bengong di pantai!” Bentak pelayan tersebut pada pelayan Dongmi.
Gadis bernama Dongmi itu hanya menunduk tanpa membalas. Semua kepala menengok
pada mereka dan memberikan pandangan mencela pada pelayan bernama Dongmi.
Tidak lama setelah membereskan kegaduhan yang terjadi di meja, makanan
mereka pun akhirnya datang. Dengan tatapan mata memandang dari segala sisi,
para anggota Shinee memakan makanannya. Mereka sudah tidak asing lagi dengan
tatapan para penggemar atau oran-orang yang sekadar ingin tahu, walau awalnya
memang agak risih. Di tengah menyantap makanan mereka, Choijin, manager Shinee,
datang mengabarkan jadwal pemotretan mereka. Pemotretan berlangsung dari siang
hingga matahari tenggelam, dari pantai hingga pelabuhan yang letaknya cukup
jauh dari hotel mereka. Begitu kembali ke kamar semuanya tertidur dengan pulas
karena kelelahan.
Matahari belum terbit ketika Taemin terbangun. Ia mengintip keluar
jendela dan masih mendapati hari masih gelap. Dilihatnya jam dinding di kamar
hotel itu. Anak panah kayu tersebut menunjukkan masih pukul 4 pagi. Taemin
kembali ke kasurnya dan menarik selimutnya, tapi ia tidak bisa tidur. Ia
menoleh pada Minho yang masih tertidur pulas. Berguling ke kanan kiri tidak
membuatnya tertidur. Ia tidak biasa terbangun sangat pagi. Biasanya, Jonghyun
atau Key lah yang bangun lebih
pagi
Akhirnya Taemin memutuskan untuk pergi ke pantai yang tidak jauh dari
hotel mereka. Paling tidak ia bisa menikmati pemandangan matahari terbit. Pasti
indah.
Taemin menemukan sebuah batu karang besar di pangkal pantai. Ia memanjat
naik dan duduk di sana. Menikmati bunyi ombak yang bergelung, air yang memukul
batu, udara pagi yang segar, pemandangan indah yang berbeda dengan Seoul yang
dikelilingi kendaraan dan gedung-gedung.
“Eh permisi,” Sebuah suara menginterupsi keasyikan Taemin. Laki-laki itu
menoleh. Di bawah sinar redup bulan di pagi hari, ia dapat melihat seorang
gadis dengan rambut panjang tergerai duduk tidak jauh dari dekatnya. “Apa kau
artis yang kemarin tersiram air?”
Taemin mengernyit sebelum bertanya, “Kau pelayan kemarin?”
“Ne,” Kata gadis itu pelan, “Aku minta maaf soal kemarin.”
“Ehm tidak apa. Kau sudah berada di sini dari tadi?” Tanya Taemin. Jujur
saja ia sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis itu.
“Ne. Aku melihatmu memanjat ke sini.” Kata gadis itu.
“Oh,” Taemin mengangguk. Mungkin karena terlalu gelap, ia tidak
menyadari bahwa gadis itu duduk di sana. “Apa kau keberatan aku di sini?”
Gadis itu terdiam sejenak sebelum berkata, “Sedikit. Tapi karena kemarin
aku sudah menyirammu, tak apalah.”
Taemin mengangguk dan tersenyum
Matahari mulai memunculkan sedikit sinarnya beberapa saat kemudian.
Perlahan-lahan keluar dari air.
Memancarkan sinarnya ke segala arah.
“Banyak artis yang sering ke sini. Melakukan pemotretan, syuting,
liburan.” Kata gadis itu dengan nada bengong. Pandangannya teretancap pada
pemandangan di depannya.
“Pemandangan di sini memang indah.” Taemin menanggapi dengan jujur.
“Benar. Perlu setahun penuh untuk benar-benar menjelajahi berbagai
tempat indah di sini. “ Kata gadis itu. “Kau suka laut?”
“Sangat suka. Aku suka lumba-lumba.” Kata Taemin.
“Lumba-lumba memang cantik. Mereka itu makhluk pandai. Aku pernah
berteman dengan seekor lumba-lumba, namanya Lon. Tapi mereka hanya hidup di
tengah laut. Ah maaf, aku terlalu
banyak ngomong ya?” Tanya gadis itu.
“Tidak ‘kok.” Taemin tersenyum. Senyuman yang biasa membuat para
penggemarnya jatuh cinta. “Ceritakan padaku tentang pulau ini.”
Mereka berbincang-bincang hingga matahari benar-benar
menerangi pantai. Dari bincang-bincang itu Taemin mengetahui bahwa gadis bernama
Dongmi itu lebih tua dua tahun darinya. Gadis itu sangat menyukai laut. Dia
terus menceritakan segala sesuatu tentang pulau itu. Semua ceritanya sangat
menarik dan Taemin merasa semakin mencintai pulau yang indah itu.
“Seharusnya jadwal kami hanya pemotretan dua hari,
tapi semua member–terutama aku–memaksa manager kami supaya kami diberi waktu
berlibur. Sudah sejak lama kami jarang berlibur.” Taemin menjelaskan. Ia
tersenyum memikirkannya. Memang jadwal Shinee selalu sibuk. Mereka juga
berencana akan tour keliling Asia bulan depan.
“Susah ya jadi artis,” gumam Dongmi, “kalau kau mau,
aku bisa membuat liburanmu asyik.”
Taemin mengernyit dan memasang wajah bertanya. Gadis
itu tersenyum penuh misteri dan tiba-tiba saja ia berdiri. Sebelum Taemin
sempat menebak apa yang akan gadis itu lakukan, gadis itu melompat ke bawah, ke
arah air di bawah batu karang. Setelah beberapa saat tersadar dari
kekagetannya, Taemin merangkak ke tepian batu karang dan melihat arus air deras
menghantam batu karang. Ia panik apa yang terjadi pada gadis itu., tapi tidak
lama kemudian wajah Dongmi keluar dari air dan ia melambai sembari berteriak
“turunlah!’.
Bukannya takut ketinggian atau tak bisa berenang,
tapi dengan arus air sederas itu, itu bukan pilihan pertamanya untuk lompat indah.
“Aku akan menarikmu.” Dongmi berjanji. “Percayalah.”
Entah kegilaan apa yang membuat Taemin merangkak maju
dan melompat ke depan. Sensasi terjun dengan angin menampar tubuhnya dan perut
bergejolak ia rasakan di udara, lalu ia mendapat sensasi yang lebih mengerikan
lagi saat di air. Mulanya ia merasakan tekanan-tekanan arus air yang
mendorong-dorong paksa tubuhnya. Beberapa detik kemudian sebuah tangan terjulur
menariknya pelan dan ia mendengar suara tepat di telinganya, “kau bisa berenang
‘kan? Ayo!”. Sekuat tenaga Taemin menggoyangkan tangan dan kakinya. Matanya
terpejam. Ketika tekanan-tekanan air mulai surut, ia membuka matanya dan kini
ia tidak berada di bawah batu karang itu lagi, melainkan di lautan. Ia berada
tidak begitu jauh dari pantai dan batu karang tadi, tapi kakinya sudah
mengambang di air. Dongmi masih menggandeng tangannya berenang memutar. Air di
laut berbeda dengan air di kolam renang. Air di laut lebih jernih dan asin.
Taemin dapat melihat batu-batu, pasir, ikan kecil yang berada di dasarnya tanpa
kacamat pelindung.
“Asyik ‘kan?” Tanya Dongmi yang dibalas dengan
anggukan semangat Taemin. “Tapi ini belum seberapa. Menyelam lebih asyik lagi.
Lebih banyak ikan dan terumbu karang.”
Mereka berenang berputar-putar beberapa saat hingga
Dongmi menarik mereka ke pantai. Sudah lama sekali sejak debut pertamanya
Taemin merasa selelah dan sesenang ini.
“Maaf ya aku nggak bisa lama-lama,” Kata Dongmi saat
mereka telah sampai di pantai. Baju mereka basah kuyup dan berat saat berjalan.
“aku harus kerja sebentar lagi dan sebentar lagi ada yang akan berselancar.” Ia
menunjuk sekelumpulan laki-laki bertelanjang dada dan membawa papan selancar.
Mereka duduk-duduk di pantai
sejenak untuk mengeringkan baju. Tiba-tiba Dongmi memekik dan ia menunjuk pulau
di sebrang. Cahaya matahari menyinari pulau itu dan pulau itu berpendar ungu.
“Pulau ungu. Sudah lama sekali sejak pulau itu berpendar ungu,” Gadis itu
menjelaskan dengan bersemangat, “katanya, kalau kau mendapatkan sebotol pasir
ungu, impianmu bakal terkabul. Tapi…” setelah beberapa saat pulau itu tidak
berpendar ungu lagi, “itu jarang sekali.” Dongmi melihatnya dengan muram. Ia
memandang ke pantai dengan tatapan kosong.
“Nuna, aku bisa membayarnya.. kita tidak perlu…”
“Sst.. Diamlah.” Dongmi menghentikan perkataan
Taemin. Ia melihat sekitar lalu berjalan dengan cepat ke depan meninggalkan
Taemin bersembunyi di belakang pohon kelapa. Gadis itu berlari dengan cepat dan
menghilang. Taemin menunggu selama beberapa saat dengan khawatir. Hari masih
begitu pagi. Matahari belum benar-benar menyinari pulau itu. Beberapa saat
setelah menunggu dalam sinar redup matahari, Dongmi berlari kembali dan ia
terjatuh saat mencapai pohon kelapa dimana Taemin bersembunyi. “Taemin ah~
bantu aku dong.”
Taemin berlari dan membantu Dongmi berdiri. Ia juga
membantu gadis itu membawa benda-benda tambahan yang ia bawa.
“Nuna, kau tahu aku bisa membayar untuk meminjam alat
menyelam… kita tidak perlu…”
“Kalau membayar apa asyiknya?” Dongmi menanggapi
singkat.
Setelah memakai perlengkapan menyelam mereka, Dongmi
menjelaskan dengan singkat cara memakai tabung oksigen dan bernafas di dalam
air. Mereka tidak menggunakan perahu untuk menyelam, dan Taemin dapat
memastikan bahwa mereka memang tidak memerlukan perahu karena Dongmi dapat
berenang lebih cepat dan lebih kuat dari perahu.
Awalnya Taemin kesusahan bernafas dalam air. Dongmi
membawanya ke permukaan beberapa kali, tapi akhirnya ia terbiasa juga. Gadis
itu membawa ke laut yang lebih dalam. Awalnya ia tidak dapat melihat apa-apa
dengan jelas. Butuh waktu beberapa saat sampai cahaya matahari menerangi air
dalam. Kini ia dalat melihat berbagai macam terumbu karang menghias dasar laut.
Berbagai macam ikan keluar dari karang-karang tersebut berenang bebas di dalam
air. Ada yang merah, kuning biru. Ada yang besar dan kecil. Ada yang berenang
bergerombol maupun sendiri. Pemandangan itu benar-benar indah. Dongmi mengajaknya berenang dan bermain
bersama ikan-ikan itu.
Mereka hanya dapat menikmati kesenangan itu selama
setengah jam karena Dongmi harus mengembalikan peralatan selam mereka. Walau
hanya setengah jam, tapi Taemin benar-benar menikmati pengalaman ini.
Dongmi berhasil mengembalikan peralatan selam itu
tanpa ketahuan pemiliknya. “Begini
lebih asyik ‘kan? Menyelam gratis?”
Taemin terkekeh, “Nuna, kau benar-benar contoh yang
buruk.”
Mereka berjalan bersama menuju pantai dan melihat
pantai sudah tidak sepi lagi. Banyak remaja maupun keluarga turis yang
melakukan kegiatan.
Semenjak hari mereka berenang bersama, hari
berikutnya mereka menghabiskan pagi bersama. Tidak satupun dari anggota Shinee
maupun manager dan staff mereka yang mengetahui hal itu. Taemin dapat
mengelabuhi mereka dengan baik karena Minho selalu bangun siang.
Tapi tidak untuk hari berikutnya. Ketika Taemin
sedang bersiap-siap keluar, suara Minho mengkagetkan Taemin.
“Ya! Taemin! Jangan pikir aku tidak tahu. Sudah
kuduga kau selalu pergi di subuh-subuh.” Minho berdiri di belakang Taemin. “Kau
tak bisa menyembunyikannya dariku. Kau mau pergi kemana?”
Taemin menghadap hyeongnya dengan pasrah. Ya, kalau
sudah ketangkap basah begini, apa lagi yang dapat ia perbuat selain mengaku?
***
“Lalu bagaimana kau bisa kemari?” Dongmi bertanya
dengan bingung setelah Taemin menceritakan penangkapan basah Minho.
“Rahasia.” Kata Taemin, lalu tersenyum. Senyuman
manis yang membuat beribu gadis di dunia ini leleh.
Dongmi mendengus. Hari ini gadis itu akan membawa
Taemin ke pondok penyewaan papan seluncur milik temannya. Pondok penyewaan
papan seluncur itu sangat dekat dengan hotel tempat Shinee menginap. Pondok itu
sudah buka dan dijaga oleh seorang gadis. Gadis itu kira-kira seumuran dengan
Taemin. Wajah gadis itu tidak seperti gadis Korea biasa. Rambutnya hitam,
matanya hijau. Taemin menebak bahwa gadis itu campuran.
“Dongmi eonni!” Seru gadis itu saat melihat kehadiran
Dongmi.
“Taeyeon-ah!” Dongmi juga berseru senang. Ia
memperkenalkan Taemin pada Taeyeon dan berkata bahwa mereka mau meminjam papan
seluncur. Taeyeon begitu heboh saat berkenalan dengan Taemin. Rupanya gadis itu
adalah salah satu penggemar Shinee, walaupun biasnya adalah Key. Dongmi
melihat-lihat papan seluncur dan ia tak puas dengan papan seluncur yang
digantung di depan, ia meminta Taeyeon untuk mengijinkan papan seluncur lain di
dalam pondok. Ia menyuruh Taemin menunggu bersama Taeyeon karena Taeyeon masih
ingin bertanya macam-macam pada Taemin.
“Tidak kukira, laki-laki yang diceritakan eonni itu
adalah Taemin oppa! Kalau begini
sih aku akan merestui kalian!” Kata Taeyeon penuh semangat.
“Kami tidak pacaran kok,” Taemin jadi salah tingkah
sendiri.
“Oh ayolah.. Aku bisa langsung tahu kok, eonni pasti
juga suka dengan oppa,” Taeyeon tersenyum, “sudah sejak lama sejak melihat
eonni benar-benar tersenyum. Eonni yang dulu seperti kembali lagi.”
Taemin mengernyit, “apa maksudmu?”
Taeyeon mengedip-ngedipkan mata bingung, “Oppa tidak
tahu… ehm.. kalau begitu lupakan saja.”
“Taeyeon-ah, apa yang terjadi pada Dongmi?” Tanya
Taemin ingin tahu. “Ceritakan padaku.”
Taeyeon menggigit bibir sebelum berkata, “Janji
jangan pernah bilang pada eonni bahwa aku yang menceritakannya?” Taemin
mengangguk, lalu Taeyeon melanjutkan dengan ragu-ragu, “Eonni sudah setengah
tahun menjadi pemurung dan penyendiri sejak… sejak… oppaku meninggal.” Taeyeon
menelan ludah sebelum melanjutkan, “Oppaku itu.. dia orang yang baik, dan
keren. Dia peselancar dan perenang yang baik. Dan dia… berkencan dengan eonni.”
“Lalu, apa yang terjadi pada…?”
Taeyeon menggigit bibirnya, “Oppa… ikut ayah menjadi
pelaut. Lalu datanglah bencana, kapal mereka karam, dan bukan hanya itu saja
penderitaan bagi eonni. Berita itu datang tepat…”
“Di hari ulang tahunku.” Dongmi menyaut dengan muram.
Taemin dan Taeyeon menoleh dan mendapati Dongmi sudah
berada di belakang mereka.
“Eonni maaf…” Taeyeon berjalan ke arah Dongmi dengan
perasaan bersalah.
“Tak apa,” Suara Dongmi menjadi datar. Semangatnya
yang tadi mengobar telahh hilang. “Ehm, Taemin, sepertinya aku tidak bisa
berselancar denganmu hari ini. Mianhae…” Gadis itu berlari pergi begitu saja
meninggalkan mereka berdua.
***
Hari itu adalah hari terakhir bagi Shinee untuk
menikmati liburan mereka di pantai. Dan sejak hari Taemin mendengarkan cerita
dari Taeyeon, ia tidak pernah menemui Dongmi. Gadis itu tidak ada di batu
karang tempat mereka biasa bertemu, juga tidak ada di restauran hotel. Ia khawatir
apa yang terjadi pada gadis itu. Tanpa sadar ia merindukan
pengalaman-pengalaman menantang yang dialaminya bersama gadis itu. Ia juga
merindukan kisah-kisah yang diceritakan Dongmi. Merindukan senyum dan tawa
gadis itu. Merindukan setiap pagi yang ia habiskan dengan gadis itu. Hanya
gadis itu yang menempati posisi utama di pikirannya saat ini. Ia bahkan tidak
merasa tertarik melihat hasil-hasil pemotretan Shinee.
Sikap uring-uringan Taemin itu tidak luput dari
anggota Shinee. Tapi hanya Minholah yang mengetahui penyebabnya dengan pasti.
Minho tidak membocorkan satupun kisah yang telah diceritakan Taemin padanya.
Di hari terakhir, para penggemar yang tinggal di sana
memberikan cindera mata pada Shinee. Mereka mendapat baju, aksesori, dan
benda-benda lainnya. Tapi yang menarik perhatian Taemin adalah sebuah botol
kecil yang diberikan oleh entah siapa. Botol itu diletakkan di depan pintu
kamarnya sore hari menjelang matahari terbenam. Jika dilihat sekilas, botol itu
hanya botol biasa yang berisi pasir. Hanya saja, ketika tertimpa cahaya, pasir
itu akan berpendar ungu.
“Hyeong, aku harus menemuinya!” Seru Taemin pada
Minho begitu mendapatkan botol itu. Tanpa menunggu respon dari Minho, Taemin
sudah melesat keluar dari kamarnya dan berlari pergi. Ia menuju ke pantai
dengan berharap-harap. Matahari sudah hampir terbenam ketika ia sampai di batu
karang yang ia sering kunjungi bersama Dongmi. Harapannya pupus seketika ketika
melihat tak ada satupun orang di atas batu karang itu. Putus asa, Taemin hendak
berbalik pergi, tapi seseorang mencegatnya.
“Taemin, tunggu, eng… aku minta maaf,” Taemin menoleh
dan ia mendapati Dongmi berada di sebelahnya, “aku sembunyi tadi.. aku…
mianhae. Tidak seharusnya aku menjauhimu. Aku hanya… kacau.”
Tapi Taemin tidak menghiraukan apapun yang gadis itu
katakan. Ia segera memeluk gadis itu. “Nuna, nuna, aku mencemaskanmu. Nuna,” ia
berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “maukah kau ikut aku ke Seoul?”
Dongmi tidak menjawab. Taemin melepaskan pelukannya
setelah beberapa saat. Dongmi menunduk menatap pasir dan masih terdiam.
“Itulah impianku saat ini, nuna.” Kata Taemin. Ia
mengangkat botol yang dibawanya sedari tadi. Pendar ungunya meredup ketika
matahari sudah turun menjauh.
“Pasir ungu?” Dongmi menatap benda itu dengan ragu,
“tapi, Taemin, waeyo? Kenapa… kenapa kau ingin aku… ke Seoul?”
“Karena..” Taemin menjawab dengan suara pelan tapi
pasti, “Aku menyukaimu, nuna.”
***
1 year later…
“Mari kita sambut tamu kita. Salah satu Hallyu star yang sedang berada
di puncaknya, SHINEE!” Teriakan membahana sang MC disambut oleh sorakan para
penonton. Seluruh anggota Shinee masuk ke dalam panggung diiringi lagu terbaru
mereka, Sherlock. Mereka melambai pada penonton yang memekik-mekik girang lalu
duduk di tempat yang disediakan. Sang MC menyambut mereka dengan candaan. Saat
ini Shinee menjadi tamu dalam sebuah acara tanya jawab dengan idola yang
berlangsung satu setengah jam.
“Baiklah, kami telah mengundi pertanyaan dari para penggemar dan
mendapat pertanyaan menarik,” Sang MC mengedip dan para penonton menunggu
dengan semangat, “Kalian ‘kan bintang idola, apakah kalian pernah ditolak?”
Pertanyaan sang MC membuat studio heboh oleh penonton yang
berbisik-bisik dengan penasaran. Seluruh anggota Shinee saling bertatapan satu
sama lain dengan malu-malu. Taeminlah yang menjawab terlebih dahulu. “Tentu
saja pernah.” Studio menjadi heboh
mendengar jawaban dari Taemin.
“Wow.. Gadis yang menolakmu pasti sangat menyesal saat ini.” Kata sang
MC tertawa dan menganggukkan kepala ke arah penggemar Taemin.
Taemin tersenyum, “Entahlah, tapi,…” Ia berhenti sejenak sebelum
melanjutkan, “walau ditolak, aku tidak pernah menyesal telah menyukainya.”
Kalimat terakhir Taemin membuat para penggemar memekik-mekik heboh.





0 komenz:
Post a Comment